Assalmu Alaikum Wr. Wb.
Setelah merasa istirahat cukup kami melanjutkan perjalan. namun perjalanan kami kali ini sedikit menurun menuju daerah di letta yang dikenal dengan Garoton, dimana garoton ini kami jadikan tempat untuk menginap di rumah warga selama kami berada di letta. setelah kami pamit untuk melanjutkan perjalanan kami ke tuan rumah mesin pun dinyalakan perjalanan pun dilanjutkan.
Dalam perjalana, kami sempatkan mengambil panorama alam letta yang begitu eksotik. tidak terasa sampai jualah kami di tempat yang dituju yaitu Garoton. begitu kami menginjakkan kaki di rumah warga yang akan kami jadikan tempat tinggal selama berada di Letta kegembiraan/keceriaan muncul di raut wajah mereka begitupun dengan kami hal itu dikarenakan lama baru bertemu kembalai. saya ± 11 tahun baru berkunjung kembali ke Letta. yang lebih lama lagi ya saudara saya ± 32 terakhir kali ia ke letta sekira tahun 1985 sebelum hari ini, Sungguh waktu yang sangat lama.
Sudah menjadi kebiasaan masyarakat letta bahkan masyarakat sulawesi pada umumnya untuk duduk di lego-lego rumah mereka sambil membicarakan berbagai macam pembahasan, begitupun dengan kami menghabiskan waktu dilego-lego rumah, tak lama kemudian masyarakat/keluarga sekitar datang untuk menghampiri dan bergabung dengan kami serta turut dalam topik pembicaraan kami, Tanpa terasa wktu sudah menunjukan jam 1.30 siang, saatnya untuk kembali mengisi stamina kami dengan makan karena selepas makan agenda kami adalah melakukan ziarah ke makam leluluhur maupun saudara/keluarga kami yang telah mendahului kami.
Selepas makan Siang kamipun duduk sejenak sebelum kami berangkat ziarah Makam/Kubur, setelah merasa cukup, bergegaslah kami setelah yang dibutuhkan sudah siap, hari ini kami berziarah kemakam Kakek (Bapak dari Bapak Kami), Leluhur tua kami (Matindo Buttu Tangnga), kerabat dekat kami yang kebetulan Makam mereka tidak terlalu berjauhan.
Hari ini dirasa cukup untuk ziarah Makamnya dan akan dilanjutkan besok dikarenakan egenda untuk besok melakukan silaturohmi ke daerah daerah yang berdekatan dengan Makam-Makam sanak saudara kami.
Bergegslah kami pulang ke rumah keluarga tempat kami menginap, tapi diperjalanan tak lupa kami mengabadiakan beberapa moment (Sebagai Kenang-Kenangan. hehehe.....)
Photo ini di ambil saat berada di kisaram Buttu Tangnga dan Salipi. pemandanga akan terlihat lebih hijau disaat masyarakat letta yang rata rata petani telah menanam padinya. apalagi jika intensitas hujan tinggi maka akan terlihat lebih menarik karna Air terjun yang banyak akan sangat mempesona.
Pada malam hari digunakan untuk cerita-cerita masa lalu yang ada di letta, hal ini semakin menarik dan ramai dikarenakan para tetua-tetua kampung datang ke tempat kami menginap, terutama yang tempat tinggalnya tidak jauh dari tempat kami.
Satu hal yang sangat menarik di Letta yaitu tentang Energi/Listrik, walaupun Letta sangat dekat dari Pembangkit Listrik terbesar di Sulawesi Selatan yaitu PLTA Bakaru, tapi nyatanya Masyarakat letta masih mengandalkan Listrik Swadaya Masyarakat letta. Sumber listrik mereka berasal dari alam yang juga memanfaatkan air sebagai tenaga yang memutar turbin untuk menghasilkan Listrik lalu didistribusikan ke Masyarakat. Jika terjadi kemarau panjang maka PLTA Swadaya Masyarakat tidak dapat beroperasi dikarenakan debit air yang kurang, maklum saja Letta berada di Pegunungan tepat di tepi Puncak jadi sumber airnya sangat tergantung pada intensitas hujan. Jika hal ini terjadi maka, untuk penerangan rumah warga hanya mengandalkan Pelita.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan jam 12 malam, waktu yang sangat larut apalagi dengan ukuran dikampung, mungkin jika di kota besar seperti makassar tengah malam belumlah terlalu larut..ππππ. Ok gan waktunya tidur berlanjut ke Hari berikutnya..... Selamat Tidur πͺπͺπͺπͺ ➽ Lanjutkan...!
Waalaikum Salam Wr. Wb.
Jangan Lupa Baca Juga ........
➠ Bagian 1
➠ Bagian 3
Hai..... Lanjut lagi di hari kedua, dengan cerita kami tentang kunjungan ke Kampung Letta. Sebagaiman yang sudah diceritakan pada bagian 1 Berkunjung Ke Letta. di hari yang kedua diawali dengan cuaca dingin menyambut pagi kami.
Masih berada di kampung Pangadang/Batu Mesa' dimana kampung tempat kami singgah untuk beristirahat karena motor tumpangan salah satu dari kami mengalami mogok. di pagi hari yang masih dingin dan suasana kampung yang tidak jauh berbeda dari kampung-kampung di sulawesi selatan pada umumnya, kami memulai dengan sedikit melakukan jalan jalan disekitar tempat kami bermalam.
Ada sesuatu yang membuat saya bertanya dalam hati "Kenapa daerah/Kampung tersebut dinamakan Batu Mesa(Satu Batu)". Ternyata hal tersebut didasari dengan adanya Batu Besar yang jumlahnya satu terdapat di daerah tersebut, konon di batu tersebut tempat masyarakat Letta beristirahat disaat mereka melakukan perjalanan kaki dari letta ke bungin maupun sebaliknya. Maka, masyarakat setempat memberi nama Batu Mesa dan nama tersebut melekat hingga masyarakat sekarang, Menurut Penuturan masyarakat setempat.
Pagi-pagi sekali Keluarga yang menjemput kami bergegas ke kampung solan, kampung terdekat untuk mencari kunci busi setelah kurang dari 1 jam dia sudah kembali membawa kunci busi tapi apa daya kunci busi yang dibawananya tidak cocok dengan busi yang mau di buka entah besar atau kecil. di pagi itu tak lupa kopi dan menu sarapan sudah siap. kami pun sarapan dan setelah itu kami duduk di lego-lego rumah sambil menikmati kopi buatan tuan rumah dan berdiskusi tentang perjalanan kami dikarenakan 1 motor yang membawa kami mengalami kerusakan, dan pada akhirnya kami putuskan Motor di tinggal dan sebagai gantinya pinjam motor ke masyarakat setempat untuk melanjutkan perjalanan kami ke letta.
| Batu Mesa |
Setelah mendapatkan motor pengganti, akhirnya perjalanan kami lanjutkan. Melewati jalan yang begitu menantang tibalah kami di kampung pertama yang dituju di letta yang bernama Belulang konon katanya kampung inilah yang paling dingin di area Letta. hal itu dikarenakan posisi Balaleon terletak di posisi yang paling tinggi dibanding kampung lainnya.
Waktu sudah menunjukan Sekira Jam 10.00 Pagi. kami sempatkan mampir di rumah warga sejenak untuk beristirahat. dengan keramahan dari tuan rumah membuat kami begitu nyaman dalam berbagai cerita dengan mereka, belum lama kami duduk di lego-lego rumah kopi sudah menghampiri kami, benar benar keramatamahan dari masyarakat Letta luar biasa. dan sangat di yakini siapa pun yang berkunjung ke Letta akan mendapatkan perlakuan yang sama.
Waktu sudah menunjukan Sekira Jam 10.00 Pagi. kami sempatkan mampir di rumah warga sejenak untuk beristirahat. dengan keramahan dari tuan rumah membuat kami begitu nyaman dalam berbagai cerita dengan mereka, belum lama kami duduk di lego-lego rumah kopi sudah menghampiri kami, benar benar keramatamahan dari masyarakat Letta luar biasa. dan sangat di yakini siapa pun yang berkunjung ke Letta akan mendapatkan perlakuan yang sama.
Setelah merasa istirahat cukup kami melanjutkan perjalan. namun perjalanan kami kali ini sedikit menurun menuju daerah di letta yang dikenal dengan Garoton, dimana garoton ini kami jadikan tempat untuk menginap di rumah warga selama kami berada di letta. setelah kami pamit untuk melanjutkan perjalanan kami ke tuan rumah mesin pun dinyalakan perjalanan pun dilanjutkan.
| Foto di Balaleon |
Sudah menjadi kebiasaan masyarakat letta bahkan masyarakat sulawesi pada umumnya untuk duduk di lego-lego rumah mereka sambil membicarakan berbagai macam pembahasan, begitupun dengan kami menghabiskan waktu dilego-lego rumah, tak lama kemudian masyarakat/keluarga sekitar datang untuk menghampiri dan bergabung dengan kami serta turut dalam topik pembicaraan kami, Tanpa terasa wktu sudah menunjukan jam 1.30 siang, saatnya untuk kembali mengisi stamina kami dengan makan karena selepas makan agenda kami adalah melakukan ziarah ke makam leluluhur maupun saudara/keluarga kami yang telah mendahului kami.
Selepas makan Siang kamipun duduk sejenak sebelum kami berangkat ziarah Makam/Kubur, setelah merasa cukup, bergegaslah kami setelah yang dibutuhkan sudah siap, hari ini kami berziarah kemakam Kakek (Bapak dari Bapak Kami), Leluhur tua kami (Matindo Buttu Tangnga), kerabat dekat kami yang kebetulan Makam mereka tidak terlalu berjauhan.
Hari ini dirasa cukup untuk ziarah Makamnya dan akan dilanjutkan besok dikarenakan egenda untuk besok melakukan silaturohmi ke daerah daerah yang berdekatan dengan Makam-Makam sanak saudara kami.
Bergegslah kami pulang ke rumah keluarga tempat kami menginap, tapi diperjalanan tak lupa kami mengabadiakan beberapa moment (Sebagai Kenang-Kenangan. hehehe.....)
| Picture 1 |
| Picture 2 |
Satu hal yang sangat menarik di Letta yaitu tentang Energi/Listrik, walaupun Letta sangat dekat dari Pembangkit Listrik terbesar di Sulawesi Selatan yaitu PLTA Bakaru, tapi nyatanya Masyarakat letta masih mengandalkan Listrik Swadaya Masyarakat letta. Sumber listrik mereka berasal dari alam yang juga memanfaatkan air sebagai tenaga yang memutar turbin untuk menghasilkan Listrik lalu didistribusikan ke Masyarakat. Jika terjadi kemarau panjang maka PLTA Swadaya Masyarakat tidak dapat beroperasi dikarenakan debit air yang kurang, maklum saja Letta berada di Pegunungan tepat di tepi Puncak jadi sumber airnya sangat tergantung pada intensitas hujan. Jika hal ini terjadi maka, untuk penerangan rumah warga hanya mengandalkan Pelita.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan jam 12 malam, waktu yang sangat larut apalagi dengan ukuran dikampung, mungkin jika di kota besar seperti makassar tengah malam belumlah terlalu larut..ππππ. Ok gan waktunya tidur berlanjut ke Hari berikutnya..... Selamat Tidur πͺπͺπͺπͺ ➽ Lanjutkan...!
Waalaikum Salam Wr. Wb.
Jangan Lupa Baca Juga ........
➠ Bagian 1
➠ Bagian 3

0 komentar:
Post a Comment